“ILMU PENGETAHUAN TEKNOLOGI DAN KEMISKINAN”
BAB I
PENDAHULUAN
1.1
Latar Belakang
Ilmu
pengetahuan dan teknologi sering dikaitkan dengan nilai atau moral. Hal ini
dapat dirasakan dampaknya melalui kebijakan-kebijakan pembangunan dalam
lingkungan masyarakat yang pada hakikatnya adalah penerapan ilmu pengetahuan
dan teknologi. Penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi sering kurang
memperhatikan masalah nilai, moral atau segi-segi kemanusiaan.
Hal
demikian ini tidak luput dari falsafah mengenai pembangunannya itu sendiri,
dalam menentukan pilihan antara orientasi produksi dengan motif ekonomi yang
kuat dengan orientasi nilai yang menyangkut segi-segi kemanusian yang terkadang
harus dibayar lebih mahal.
Pembangunan
ekonomi yang kurang merata menyebabkan masih banyak masyarakat miskin yang
belum menikmati ilmu pengetahuan dan teknologi yang berkembang di negeri ini.
Kemiskinan sendiri merupakan kelanjutan dari perjuangan bangsa, sebagai
perjuangan yang akan memperoleh kemerdekaan bangsa dan motivasi fundamental untuk
menggapai cita-cita menjadi masyarakat yang adil dan makmur.
1.2 Rumusan
Masalah
1.
Apa yang dimaksud dengan Ilmu
Pengetahuan?
2.
Apa yang dimaksud dengan Teknologi?
3.
Apa itu Ilmu Pengetahuan,
Teknologi dan Nilai?
4.
Apa itu Kemiskinan?
1.3
Tujuan Penulisan
1. Mengetahui tentang Ilmu Pengetahuan.
2. Mengetahui tentang Teknologi.
3. Mengetahui tentang Ilmu Pengetahuan, Teknologi dan Nilai.
4. Mengetahui tentang Kemiskinan.
BAB II
ISI
2.1 Ilmu Pengetahuan
Ilmu
(atau ilmu pengetahuan) adalah seluruh usaha sadar untuk menyelidiki, menemukan
dan meningkatkan pemahaman manusia dari berbagai segi kenyataan dalam alam
manusia. Segi-segi ini dibatasi agar dihasilkan rumusan-rumusan yang pasti.
Ilmu memberikan kepastian dengan membatasi lingkup pandangannya, dan kepastian
ilmu-ilmu diperoleh dari keterbatasannya.
Ilmu
pengetahuan lazim digunakan dalam pengertian sehari-hari, terdiri dari dua
kata, “ ilmu “ dan “ pengetahuan “, yang masing-masing punya identitas
sendiri-sendiri.
Secara
etimologi kata ilmu dalam bahasa Arab “ilm” yang berarti memahami, mengerti,
atau mengetahui. Dalam kaitan penyerapan katanya, ilmu pengetahuan dapat
berarti memahami suatu pengetahuan, dan ilmu sosial dapat berarti mengetahui
masalah-masalah sosial, dan lain sebagainya.
Definisi menurut
para ahli :
Ø The
Liang Gie, 1991
Sekumpulan
proposisi sistematis yang terkandung dalam pernyataan-pernyataan yang benar
dengan ciri pokok yang bersifat general, rational, objektif, mampu diuji
kebenarannya (verifikasi objektif), dan mampu menjadi milik umum.
Ø C, Verhaak
Pengetahuan
yang diatur secara sistematis dan langkah- langkah pencapaiannya
dipertanggung-jawabkan secara teoritis.
Ø J.
Haberer 1972
Suatu
hasil aktivitas manusia yang merupakan kumpulan teori, metode dan praktek dan
menjadi pranata dalam masyarakat.
Ø J.D.
Bernal 1977
Suatu
pranata atau metode yang membentuk keyakinan mengenai alam semesta dan manusia.
Ø E.
Cantote 1977
Suatu
hasil aktivitas manusia yang mempunyai makna dan metode.
Ø Cambridge-Dictionary
1995
Ilmu
Pengetahuan adalah kumpulan pengetahuan yang benar, mempunyai objek dan tujuan
tertentu dengan sistim, met ode untuk berkembang serta berlaku universal yang
dapat diuji kebenarannya.
Dalam
pengertian lain, pengetahuan adalah berbagai gejala yang ditemui dan diperoleh
manusia melalui pengamatan inderawi. Pengetahuan muncul ketika seseorang
menggunakan indera atau akal budinya untuk mengenali benda atau kejadian
tertentu yang belum pernah dilihat atau dirasakan sebelumnya. Misalnya ketika
seseorang mencicipi masakan yang baru dikenalnya, ia akan mendapatkan
pengetahuan tentang bentuk, rasa, dan aroma masakan tersebut.
Ilmu
menjawab pertanyaan “why” dan “how” sedangkan filsafat menjawab pertanyaan
“why, why, dan why” dan seterusnya sampai jawaban paling akhir yang dapat
diberikan oleh pikiran atau budi manusia.
Untuk
membuktikan pengetahuan itu benar, perlu berpangkal pada teori kebenaran
pengetahuan :
Ø Pengetahuan
dianggap benar apabila dalil (proposisi) itu mempunyai hubungan dengan dalil
(proposisi) yang terdahulu.
Ø Pengetahuan
dianggap benar apabila ada kesesuaian dengan kenyataan
Ø Pengetahuan
dianggap benar apabila mempunyai konsekwensi praktis dalam diri yang mempunyai
pengeahuan itu.
Ilmu
pengetahuan pada dasarnya memiliki tiga komponen penyangga tubuh pengetahuan
yang disusunnya yaitu:
1. Ontologis
Epistemologis
hanyalah merupakan cara bagaimana materi pengetahuan diperoleh dan disusun
menjadi tubuh ilmu pengetahuan.
2. Epistemologis
Ontologis
dapat diartikan hakekat apa yang dikaji oleh pengetahuan, sehingga jelas ruang
lingkup wujud yang menajdi objek penelaahannya. Atau dengan kata lain
ontologism merupakan objek formal dari suatu pengetahuan.
3. Aksiologis
Komponen
aksiologis adalah asas menggunakan ilmu pengetahuan atau fungsi dari ilmu
pengetahuan.
Pengetahuan
muncul ketika seseorang menggunakan indera atau akal budinya untuk mengenali
benda atau kejadian tertentu yang belum pernah dilihat atau dirasakan
sebelumnya. Misalnya ketika seseorang mencicipi masakan yang baru dikenalnya,
ia akan mendapatkan pengetahuan tentang bentuk, rasa, dan aroma masakan
tersebut.
Langkah-langkah
dalam memperoleh ilmu dan objek ilmu meliputi rangkaian kegiatan dan tindakan.
Dimulai dengan pengamatan, yaitu suatu kegiatan yang diarahkan kepada fakta
yang mendukung apa yang dipikirkan untuk sistemasi, kemudian
menggolong-golongkan dan membuktikan dengan cara berpikir analitis, sistesis,
induktif dan deduktif. Yang terakhir ialah pengujian kesimpulan dengan
menghadapkan fakta-fakta sebagai upaya mencari berbagai hal yang merupakan
pengingkaran.
Pengetahuan
yang lebih menekankan pengamatan dan pengalaman inderawi dikenal sebagai
pengetahuan empiris atau pengetahuan aposteriori. Pengetahuan ini bisa
didapatkan dengan melakukan pengamatan dan observasi yang dilakukan secara
empiris dan rasional. Pengetahuan empiris tersebut juga dapat berkembang
menjadi pengetahuan deskriptif bila seseorang dapat melukiskan dan
menggambarkan segala ciri, sifat, dan gejala yang ada pada objek empiris
tersebut. Pengetahuan empiris juga bisa didapatkan melalui pengalaman pribadi manusia
yang terjadi berulangkali. Misalnya, seseorang yang sering dipilih untuk
memimpin organisasi dengan sendirinya akan mendapatkan pengetahuan tentang
manajemen organisasi.
Selain
pengetahuan empiris, ada pula pengetahuan yang didapatkan melalui akal budi
yang kemudian dikenal sebagai rasionalisme. Rasionalisme lebih menekankan
pengetahuan yang bersifat apriori; tidak menekankan pada pengalaman. Misalnya
pengetahuan tentang matematika. Dalam matematika, hasil 1 + 1 = 2 bukan
didapatkan melalui pengalaman atau pengamatan empiris, melainkan melalui sebuah
pemikiran logis akal budi. Pengetahuan adalah informasi atau maklumat yang
diketahui atau disadari oleh seseorang. Pengetahuan termasuk, tetapi tidak
dibatasi pada deskripsi, hipotesis, konsep, teori, prinsip dan prosedur yang
secara Probabilitas Bayesian adalah benar atau berguna.
Pembentukan
ilmu akan berhadapan dengan objek yang merupakan bahan dalam penelitian,
meliputi objek material sebagai bahan yang menadi tujuan penelitian bulat dan
utuh, serta objek formal, yaitu sudut pandangan yang mengarah kepada persoalan
yang menjadi pusat perhatian. Langkah-langkah dalam memperoleh ilmu dan objek
ilmu meliputi rangkaian kegiatan dan tindakan. Dimulai dengan pengamatan, yaitu
suatu kegiatan yang diarahkan kepada fakta yang mendukung apa yang dipikirkan
untuk sistemasi, kemudian menggolong-golongkan dan membuktikan dengan cara
berpikir analitis, sistesis, induktif dan deduktif. Yang terakhir ialah
pengujian kesimpulan dengan menghadapkan fakta-fakta sebagai upaya mencari
berbagai hal yang merupakan pengingkaran.
Untuk
mencapai suatu pengetahuan yang ilmiah dan obyektif diperlukan sikap yang
bersifat ilmiah, yang meliputi empat hal yaitu :
1.
Tidak ada perasaan yang bersifat pamrih
sehingga menacapi pengetahuan ilmiah yang obeyktif
2.
Selektif, artinya mengadakan pemilihan
terhadap problema yang dihadapi supaya didukung oleh fakta atau gejala, dan
mengadakan pemilihan terhadap hipotesis yang ada
3.
Kepercayaan yang layak terhadap
kenyataan yang tak dapat diubah maupun terhadap indera dam budi yang digunakan
untuk mencapai ilmu
4.
Merasa pasti bahwa setiap pendapat,
teori maupun aksioma terdahulu telah mencapai kepastian, namun masih terbuka
untuk dibuktikan kembali.
2.1.1 Teknologi
Teknologi memiliki lebih dari satu definisi. Salah
satunya adalah pengembangan dan aplikasi dari alat, mesin, material dan proses
yang menolong manusia menyelesaikan masalahnya. Sebagai aktivitas manusia,
teknologi mulai dikenal sebelum sains dan teknik.
Teknologi,
menurut Djoyohadikusumo (1994, 222) berkaitan erat dengan sains (science) dan
perekayasaan (engineering). Dengan kata lain, teknologi mengandung dua dimensi,
yaitu science dan engineering yang saling berkaitan satu sama lainnya. Sains
mengacu pada pemahaman kita tentang dunia nyata sekitar kita, artinya mengenai
ciri-ciri dasar pada dimensi ruang, tentang materi dan energi dalam
interaksinya satu terhadap lainnya.
Definisi
mengenai sains menurut Sardar adalah sarana pemecahan masalah mendasar dari
setiap peradaban. Tanpa sains, lanjut Sardar suatu peradaban tidak dapat
mempertahankan struktur-struktur politik dan sosialnya atau memenuhi
kebutuhan-kebutuhan dasar rakyat dan budayanya. Sebagai perwujudan eksternal
suatu epistemologi, sains membentuk lingkungan fisik, intelektual dan budaya
serta memajukan cara produksi ekonomis yang dipilih oleh suatu peradaban.
Pendeknya, sains, jelas Sardar adalah sarana yang pada akhirnya mencetak suatu
peradaban, dia merupakan ungkapan fisik dari pandangan dunianya. Sedangkan
rekayasa, menurut Djoyohadikusumo menyangkut hal pengetahuan objektif (tentang
ruang, materi, energi) yang diterapkan di bidang perancangan (termasuk mengenai
peralatan teknisnya). Dengan kata lain, teknologi mencakup teknik dan peralatan
untuk menyelenggarakan rancangan yang didasarkan atas hasil sains.
Dari
perspektif sejarah, seperti digambarkan oleh Toynbee (2004, 35) teknologi
merupakan salah satu ciri khusus kemuliaan manusia bahwa dirinya tidak hidup
dengan makanan semata. Teknologi merupakan cahaya yang menerangi sebagian sisi
non material kehidupan manusia. Teknologi, lanjut Toynbee (2004, 34) merupakan
syarat yang memungkinkan konstituen-konstituen non material kehidupan manusia,
yaitu perasaan dan pikiran , institusi, ide dan idealnya. Teknologi adalah
sebuah manifestasi langsung dari bukti kecerdasan manusia.
Dalam
konsep yang pragmatis dengan kemungkinan berlaku secara akademis dapatlah
dikatakan bahwa pengetahuan (body ofknowledge), dan teknologi sebagai suatu
seni (state of arts) yang mengandung pengetian berhubungan dengan proses
produksi; menyangkut cara bagaimana berbagai sumber, tanah, modal, tenaga kerja
dan ketrampilan dikombinasikan untuk merealisasi tujuan produksi. Secara
konvensional mencakup penguasaan dunia fisik dan biologis, tetapi secara luas
juga meliputi teknologi sosial, terutama teknologi sosial pembangunan (the
social technology of development) sehingga teknologi itu adalah merode
sistematis untuk mencapai tujuan insani (Eugene Stanley, 1970).
Teknologi
memperlihatkan fenomenanya dalam masyarakat sebagai hal impersonal dan memiliki
otonomi mengubah setiap bidang kehidupan manusia menjadi lingkup teknis.
Jacques Ellul dalam tulisannya berjudul “the technological society” (1964)
tidak mengatakan teknologi tetapi teknik, meskipun artinya sama. Menurut Ellul
istilah teknik digunakan tidak hanya untuk mesin, teknologi atau prosedur untuk
memperoleh hasilnya, melainkan totalitas metode yang dicapai secara rasional
dan mempunyai efisiensi (untuk memberikan tingkat perkembangan) dalam setiap
bidang aktivitas manusia. Jadi teknologi penurut Ellul adalah berbagai usaha,
metode dan cara untuk memperoleh hasil yang distandarisasi dan diperhingkan
sebelumnya.
Fenomena
teknik pada masyarakat terkini, menurut Sastrapratedja (1980) memiliki
ciri-ciri sebagai berikut :
1.
Rasionalistas, artinya tindakan spontan
oleh teknik diubah menjadi tindakan yang direncanakan dengan perhitungan
rasional
2.
Artifisialitas, artinya selalu membuat
sesuatu yang buatan tidak alamiah
3.
Otomatisme, artinya dalam hal metode,
organisasi dan rumusan dilaksanakan secara otomatis. Demikian juga dengan
teknik mampu mengeliminasikan kegiatan non teknis menjadi kegiatan teknis
4.
Teknik berkembang pada suatu kebudayaan
5.
Monisme, artinya semua teknik bersatu,
saling berinteraksi dan saling bergantung
6.
Universalisme, artinya teknik melampaui
batas-batas kebudayaan dan ediologi, bahkan dapat menguasai kebudayaan
7.
Otonomi artinya teknik berkembang
menurut prinsip-prinsip sendiri.
Teknologi
yang berkembang dengan pesat meliputi berbagai bidang kehidupan manusia. Luasnya
bidang teknik digambarkan sebagai berikut :
1.
Teknik meluputi bidang ekonomi, artinya
teknik mampu menghasilkan barang-barang industri. Dengan teknik, mampu
mengkonsentrasikan capital sehingga terjadi sentralisasi ekonomi
2.
Teknik meliputi bidang organisasional
seperti administrasi, pemerintahan, manajemen, hukum dan militer
3.
Teknik meliputi bidang manusiawi. Teknik
telah menguasai seluruh sector kehidupan manusia, manusia semakin harus
beradaptasi dengan dunia teknik dan tidak ada lagi unsur pribadi manusia yang
bebas dari pengaruh teknik.
Alvin
Tofler (1970) mengumpamakan teknologi itu sebagai mesin yang besar atau sebuah
akselarator (alat pemercepat) yang dahsyat, dan ilmu pengetahuan sebagai bahan
bakarnya. Dengan meningkatnya ilmu pengetahuan secara kuantitatif dan
kualtiatif, maka kiat meningkat pula proses akselerasi yang ditimbulkan oleh
mesin pengubah, lebih-lebih teknologi mampu menghasilkan teknologi yang lebih
banyak dan lebih baik lagi.
2.1.2 Hubungan Ilmu
Pengetahuan, Teknologi dan Nilai
Ilmu dan
teknologi adalah sesuatu yang sulit untuk dipisahkan, dimana ada teknologi
pasti ada ilmu yang menyertainya. Begitupun sebaliknya, dimana ilmu
dikembangkan, disana pasti ada teknologi yang dihasilkan. Dengan
Perkembangannya Ilmu dan teknologi (iptek) dapat menjadi keuntungan yang besar,
tetapi dapat juga menjadi kerugian yang sangant besar bila tidak dapat
mengaturnya. Dengan perkembangannya sekarang, iptek menjadi pondasi utama dalam
industrialisasi Indonesia, segala hal sekarang telah menggunakan iptek,
terutama mesin, mesin menjadi salah satu penggerak industri Indonesia.
Dengan
adanya fenomena tersebut, SDM di Indonesia menjadi kalah bersaing dengan mesin,
mereka menjadi sulit untuk mendapat pekerjan sehingga angka pengangguran terus
meningkat. Tetapi bila iptek dapat dikembangkan dengan baik, iptek dapat
menjadi pemicu kemajuan bangsa, dengan iptek pertumbuhan ekonomi menjadi
lancar, pembangunan infrastruktur menjadi lebih mudah. Iptek seperti sebilah
pisau, jika digunakan oleh orang yang bertanggung jawab, maka ia akan menjadi
sesuatu yang akan bermanfaat, dan jika digunakan oleh orang yang tidak
bertanggung jawab maka akan membahayakan dirinya sendiri maupun orang lain.
2.1.3 Kemiskinan
Kemiskinan
lazimnya dilukiskan sebagai kurangnya pendapatan untuk memenuhi kebutuhan hidup
yang pokok. Dikatakan berada di bawah garis kemiskinan apabila pendapatan tidak
cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup yang paling pokok seperti pangan, pakaian,
tempat berteduh, dan lain-lain. Garis kemiskinan yang menentukan batas minimum
pendapatan yang diperlukan untuk memenuhi kebutuhan pokok, bisa dipengaruhi
oleh tiga hal :
Ø Persepsi
manusia terhadap kebutuhan pokok yang diperlukan
Ø Posisi
manusia dalam lingkungan sekitar
Ø Kebutuhan
objectif manusia untuk bisa hidup secara manusiawi Persepsi manusia terhadap
kebutuhan pokok yang diperlukan dipengaruhi oleh tingkat pendidikan, adat
istiadat dan sistem nilai yang dimiliki.
Kemiskinan
merupakan masalah global. Sebagian orang memahami istilah ini secara subyektif
dan komparatif, sementara yang lainnya melihatnya dari segi moral dan
evaluatif, dan yang lainnya lagi memahaminya dari sudut ilmiah yang telah
mapan.
Kemiskinan
dipahami dalam berbagai cara. Pemahaman utamanya mencakup:
Gambaran
kekurangan materi, yang biasanya mencakup kebutuhan pangan sehari-hari,
sandang, perumahan, dan pelayanan kesehatan. Kemiskinan dalam arti ini dipahami
sebagai situasi kelangkaan barang-barang dan pelayanan dasar.
Gambaran tentang
kebutuhan sosial, termasuk keterkucilan sosial, ketergantungan, dan
ketidakmampuan untuk berpartisipasi dalam masyarakat. Hal ini termasuk
pendidikan dan informasi. Keterkucilan sosial biasanya dibedakan dari
kemiskinan, karena hal ini mencakup masalah-masalah politik dan moral, dan
tidak dibatasi pada bidang ekonomi.
Gambaran tentang
kurangnya penghasilan dan kekayaan yang memadai. Makna “memadai” di sini sangat
berbeda-beda melintasi bagian-bagian politik dan ekonomi di seluruh dunia.
Kemiskinan bisa
dikelompokan dalam dua kategori, yaitu:
Ø Kemiskinan
absolut
Kemiskinan
jenis ini berhubungan dengan garis kemiskinan yang didefiniskan secara
internasional/regional/nasional. Kemiskinan absolut mengacu pada satu set
standard yang konsisten, tidak terpengaruh oleh waktu dan tempat/negara. Bank
Dunia mendefinisikan kemiskinan absolut sebagai hidup dengan pendapatan dibawah
USD $1/hari.
Ø Kemiskinan
relatif
Kemiskinan
relatif berhubungan dengan populasi terhadap distribusi pendapatan. Kemiskinan
jenis ini tidak berhubungan dengan garis kemiskinan, tetapi bersumber dari
perspektif masing-masing orang, yaitu karena orang tersebut merasa miskin.
Kemiskinan realatif bisa menimpa siapa saja. Satu contoh, bila anda seorang
pegawai dengan pendapatan 5 juta perbulan misalnya, suatu hari anda mengetahui
bahwa rekan anda yang se-level dengan anda, memiliki pendapatan yang nilainya
3x lipat dari anda. seketika anda merasa marah, geregetan. Pada kondisi
tersebut anda telah mengalami kemiskinan relatif.
Penyebab
kemiskinan kemiskinan banyak dihubungkan dengan:
Ø Penyebab
individual, atau patologis, yang melihat kemiskinan sebagai akibat dari
perilaku, pilihan, atau kemampuan dari si miskin.
Ø Penyebab
keluarga, yang menghubungkan kemiskinan dengan pendidikan keluarga.
Ø Penyebab
sub-budaya (subcultural), yang menghubungkan kemiskinan dengan kehidupan
sehari-hari, dipelajari atau dijalankan dalam lingkungan sekitar.
Ø Penyebab
agensi, yang melihat kemiskinan sebagai akibat dari aksi orang lain, termasuk
perang, pemerintah, dan ekonomi.
Ø Penyebab
struktural, yang memberikan alasan bahwa kemiskinan merupakan hasil dari
struktur sosial.
Ø
Usaha
memerangi kemiskinan salah satunya dapat dilakukan dengan cara memberikan
pekerjaan yang memberikan pendapatan yang layak kepada orang-orang miskin.
Karena dengan cara ini bukan hanya tingkat pendapatan yang dinaikkan, tetapi
harga diri sebagai manusia dan sebagai warga masyarakat dapat dinaikkan seperti
warga lainnya. Dengan lapangan kerja dapat memberikan kesempatan kepada mereka
untuk bekerja dan merangsang berbagai kegiatan-kegiatan di sektor ekonomi
lainnya.
Tanggapan utama
terhadap kemiskinan adalah sebagai berikut.
Ø Bantuan
kemiskinan, atau membantu secara langsung kepada orang miskin. Ini telah
menjadi bagian pendekatan dari masyarakat Eropa sejak zaman pertengahan.
Ø Bantuan
terhadap keadaan individu. Banyak macam kebijakan yang dijalankan untuk
mengubah situasi orang miskin berdasarkan perorangan, termasuk hukuman,
pendidikan, kerja sosial, pencarian kerja, dan lain-lain.
Ø Persiapan
bagi yang lemah. Daripada memberikan bantuan secara langsung kepada orang
miskin, banyak negara sejahtera menyediakan bantuan untuk orang yang
dikategorikan sebagai orang yang lebih mungkin miskin, seperti orang tua atau
orang dengan ketidakmampuan, atau keadaan yang membuat orang miskin, seperti
kebutuhan akan perawatan kesehatan.
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Ilmu
pengetahuan, teknologi dan kemiskinan adalah sesuatu yang bertentangan.
Teknologi diciptakan oleh manusia demi kesejahteraan umat manusia dan untuk
memenuhi kebutuhan manusia dengan arti menciptakan, mencari kesenangan manusia,
melindungi dari malapetaka, kelaparan, melindungi dari bahaya kekejaman alam
serta memenuhi kebutuhan pokok manusia.Ilmu pengetahuan, teknologi serta
kemiskinan memiliki kaitan struktur yang jelas, sebab bagi siapa saja yang dapat
menguasai IPTEK maka ia akan berkembang mengikuti era globalisasi yang sudah
modern ini. Dan bagi siapa saja yang tidak menguasai IPTEK maka ia akan
tertinggal jauh oleh pesatnya perkembangan teknologi di zaman ini.Bila di zaman
yang modern ini masih ada masyarakat yang tertinggal dan tidak menguasai IPTEK
maka mungkin saja masyarakat masih terpuruk dalam kemiskinan karena mereka
masih menggunakan cara lama yang sudah tertinggal dan tidak efektif dan efisien
lagi dizaman ini.
3.2 Saran
Ilmu pengetahuan dan teknologi pada saat ini mengalami
kemajuan yang pesat. Pesatnya kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi tidak
hanya berdampak postif tetapi juga berdampak negatif bagi masyarakat. Kemajuan
IPTEK dapat membuat peran manusia mulai tergantikan dengan teknologi yang ada
pada saat ini.
Dengan tergantinya peran manusia dalam melakukan suatu
pekerjaan berdampak berkurangnya lahan pekerjaan sehingga timbul pengangguran
dan kemiskinan. Untuk mengatasi hal itu, sumber daya manusia perlu ditingkatkan
agar tidak terjadi kemiskinan untuk kehidupan manusia selanjutnya.
3.3 Daftar Pustaka
http://mozarkh.blogspot.com/2012/01/hubungan-ilmu-teknologi-dan-kemiskinan.html
http://bobungga.blogspot.com/2012/01/ilmu-pengetahuan-teknologi-dan.html
widyo.staff.gunadarma.ac.id/Downloads/files/6385/ISD-OL.doc
http://abiand.wordpress.com/tugas/8-ilmu-pengetahuan-teknologi-dan-kemiskinan/
http://elearning.gunadarma.ac.id/docmodul/mkdu_isd/bab8-ilmu_pengetahuan_teknologi_dan_kemiskinan.pdf