PENGEMBANGAN MODEL OPTIMISASI
PERENCANAAN PROSES BERBASIS FITUR PADA PRODUK ASSEMBLY
Nilda Tri Putri[*])
ABSTRACT
Tolerance
design affects the quality and the robustness of the product. Tolerance design
is mostly aimed at selecting best tolerance limit that minimizes total cost.
This can be done by balancing the quality loss caused by variance on product
performance and cost to control variances.
This
paper is aimed at selecting tolerance limits for assembly components by
minimizing manufacturing and quality loss costs simultaneously. This paper
explores all alternatives of machining processes of all features on the
components. To find solution of this problem, zero-one programming with LINGO
8.0 software is used. The result shows that a stringent limit implies to the
use of machine with a highest process capability, which also results in higher
total production cost. The result of this tolerance synthesis will be used as a
recommendation for manufacturing process.
Key Words: tolerance, quality loss, optimization
PENDAHULUAN
Pada proses manufaktur, material akan
mengalami perubahan fisik dan geometri menjadi produk atau komponen yang siap
untuk dirakit. Karakteristik fungsional komponen baru dapat diketahui
setelah komponen tersebut dirakit. Oleh karena adanya variasi yang terjadi pada
proses produksi dan material, tidak ada proses manufaktur yang dapat
menghasilkan suatu komponen dengan geometri yang sempurna. Artinya, variasi
merupakan sifat umum bagi produk atau komponen yang dihasilkan oleh suatu proses
produksi. Hal ini menuntut kesadaran perancang produk bahwa suatu toleransi
harus diperhitungkan/dirancang pada waktu spesifikasi produk ditetapkan.
Tujuan desain toleransi adalah untuk menentuka n
batas-batas maksimum dan minimum penyimpangan karakteristik produk yang
disebabkan oleh ketidaksempurnaan proses produksi. Permasalahan penetapan
toleransi akan menjadi kompleks apabila ditinjau dari segi biaya dan kemampuan
proses produksi. Toleransi mempengaruhi kemampuan untuk merakit produk akhir,
dan dipengaruhi oleh biaya produksi, pemilihan proses, tooling, biaya set up,
keterampilan operator, inspeksi dan pengukuran, scrap dan rework. Selain
itu toleransi juga secara langsung mempengaruhi performansi engineering dan kekokohan desain (robustness of design).
Zhang dan Wang (1998) menetapkan dua jenis toleransi,
yaitu toleransi d esain dan toleransi proses manufaktur. Toleransi desain
memiliki dua domain pengertian yang berbeda yaitu toleransi desain dari sisi
perancang produk (designer) dan
toleransi desain dari sisi perancang proses. Dari sisi perancang produk,
toleransi desain merupakan variabel yang berhubungan dengan fungsional produk.
Sedangkan dari sisi perencana proses, toleransi desain merupakan informasi yang
mendasari pemilihan proses pemesinan (beserta parameter pemesinan) yang
berhubungan langsung dengan biaya manufaktur. Toleransi proses manufaktur ini
ditetapkan dalam suatu rencana proses untuk fabrikasi komponen (part).
Di satu sisi, proses penentuan toleransi pada suatu
produk dilakukan saat perancangan produk, yaitu di mana informasi toleransi
tersebut akan disertakan dengan informasi dimensi pada gambar kerja yang
kemudian akan ditindaklanjuti pada perencanaan proses dan proses manufaktur.
Penetapan toleransi merupakan suatu prosedur yang mendistribusikan toleransi assembly,
atau mendistribusikan toleransi desain komponen akhir pada toleransi proses
yang berhubungan. Toleransi assembly
diketahui dari kebutuhan rancangan dan didistribusikan pada semua komponen
dengan beberapa cara. Pemodelan analitik dari assembly menyediakan suatu basis kuantitatif untuk mengevaluasi
variasi rancangan. Toleransi assembly
biasanya telah ditetapkan berdasarkan kepada kebutuhan performansi, sementara
toleransi komponen sangat erat hubungannya dengan kemampuan proses produksi.
Kebanyakan permasalahan spesifikasi toleransi yang umumnya dihadapi oleh
perancang adalah bagaimana
mendistribusikan toleransi assembly
yang ditetapkan pada komponen-komponen assembly.
Di sisi lain, penentuan nilai toleransi kualitas produk
seringkali dilakukan melalui trade-off
antara biaya kerugian kualitas (quality
loss) dan biaya manufaktur. Fungsi loss
menggambarkan biaya yang timbul di antara produsen dan konsumen akibat
penetapan karakteristik kualitas tertentu pada produk. Penetapan toleransi yang
longgar mengakibatkan variabilitas yang besar pada karakteristik produk
(kualitas rendah) dan biaya manufaktur pun akan rendah (quality loss yang tinggi). Sebaliknya penetapan toleransi yang
ketat mengakibatkan variabilitas yang rendah pada karakteristik produk
(kualitas baik), namun biaya manufaktur menjadi tinggi (quality loss yang rendah). Optimisasi dapat dilakukan untuk
menentukan toleransi yang optimal dengan mempertimbangkan kerugian konsumen (consumer loss) dan biaya manufaktur.
Keputusan mengenai toleransi seharusnya juga mempertimbangkan keterbatasan
kemampuan dari proses manufaktur yang dibutuhkan, selain permasalahan
fungsional dan assemblability constraint
(Hong, 2002).
Penelitian terdahulu tentang penetapan toleransi hanya
mempertimbangkan salah satu fungsi tujuan saja yaitu biaya manufaktur atau
biaya kerugian kualitas. Oleh
karenanya toleransi optimal yang diperoleh hanya dari salah satu komponen biaya
tersebut. Pada makalah ini dilakukan pengembangan algoritma optimalisasi
penetapan toleransi dengan mempertimbangkan biaya manufaktur dan biaya kerugian
kualitas agar didapatkan total biaya produksi yang minimum, khususnya untuk
produk assembly. Algoritma yang
dikembangkan digunakan untuk menentukan batas toleransi assembly yang akan meminimasi total biaya yang dikeluarkan dengan
cara menyeimbangkan quality loss yang
disebabkan oleh variasi pada performansi produk dengan biaya yang dikeluarkan
untuk pengendalian variasi ini.
Makalah ini bertujuan untuk menentukan batas-batas
toleransi untuk komponen-komponen assembly
dengan meminimasi biaya manufaktur dan biaya quality loss secara simultan.
METODE PENELITIAN
Penelitian
ini dilakukan atas beberapa tahapan yang harus dilalui yaitu pengembangan
formulasi model perencanaan proses dan tahapan pengimplementasian model dengan
menggunakan contoh numerik. Model yang dikembangkan pada makalah ini bertujuan
untuk memilih alternatif proses yang mampu memberikan nilai toleransi yang
dapat meminimalkan kedua biaya yaitu biaya manufaktur dan biaya kerugian
kualitas. Model dasar yang dijadikan acuan dalam pengembangan formulasi model
adalah model Ye dan Salustri (2000).
1.
Pengembangan Model
Jika sebuah rancangan proses dapat dianggap sebagai
sebuah produk yang terdiri dari Nr
komponen maka skenario rancangan proses yang dihasilkan merupakan fungsi dari
komponen rancangan proses yang dipilih. Suatu komponen dipandang sebagai
kumpulan beberapa fitur (pi)
yang memiliki ketergantungan satu dengan yang lain, dan setiap fitur dapat
dikerjakan dengan sejumlah Mij
alternatif proses pemesinan.
Skenario rancangan proses yang dipilih
adalah skenario yang dapat memenuhi nilai toleransi proses yang mampu
meminimalkan total biaya produksi yang terdiri dari biaya manufaktur dan biaya
kerugian kualitas, dengan batasan toleransi adalah toleransi produk assembly.
Skenario rancangan proses yang optimum adalah kombinasi
alternatif proses yang dipilih pada setiap komponen rancangan proses atau
dinotasikan dengan R =
, di mana
menunjukkan indeks alternatif proses ke-k yang dipilih untuk memproses komponen
ke-i untuk fitur ke-j. Komponen rancangan proses memiliki
sejumlah Mij alternatif proses atau
.
merupakan variabel keputusan yang menunjukkan
alternatif proses ke-k yang dapat
dipilih dari sejumlah alternatif proses untuk memproses komponen ke-i untuk fitur ke-j.
Setiap alternatif proses memiliki nilai karakteristik
berupa nilai biaya, kualitas, dan waktu proses pemesinan atau
. Nilai karakteristik tersebut akan membentuk kriteria
performansi skenario rancangan proses yang dihasilkan. Karakteristik kualitas
produk akhir (y) skenario rancangan
proses merupakan fungsi karakteristik kualitas dari tiap komponen rancangan
proses R, atau
.
Tujuan pengembangan model adalah memilih satu alternatif
proses dari sejumlah alternatif proses yang dimiliki oleh setiap komponen ke-i untuk fitur ke-j (
), sehingga dihasilkan skenario rancangan proses yang
optimum.
bernilai 1 untuk
indeks alternatif proses ke-k yang
dipilih dan lainnya bernilai 0. Kriteria biaya digunakan dalam mencapai tujuan
optimalisasi perancangan proses (optimalisasi penetapan nilai toleransi) yaitu
biaya produksi yang minimum. Spesifikasi produk akhir berupa spesifikasi
kualitas toleransi desain/toleransi assembly
, di mana
dan
masing-masing secara
berurutan adalah nilai target kualitas dan nilai toleransi kualitas desain
(toleransi fungsional). Spesifikasi tersebut berfungsi sebagai batasan dalam
model ini.
1.1
Kriteria
Fungsi Tujuan
Biaya produksi untuk komponen mencakup biaya-biaya yang
berkaitan dengan proses manufaktur dan biaya kerugian kualitas. Biaya
manufaktur dihitung dengan mengalikan waktu proses pemesinan setiap alternatif
proses dengan biaya pemesinan (Rp/jam atau Rp/menit). Untuk menghitung waktu
proses pemesinan terlebih dahulu ditentukan parameter pemesinan di antaranya:
kecepatan spindle, kecepatan makan,
kedalaman potong, dan kecepatan potong. Data-data ini bisa didapatkan dari machining data handbook. Perhitungan
keseluruhan biaya manufaktur proses dari skenario rancangan proses yang dipilih
(MR) dapat ditulis:
Biaya kualitas merupakan ukuran biaya kerugian kualitas
yang akan dibebankan ke konsumen akibat variansi kualitas. Kerugian kualitas
didefinisikan sebagai kerugian karena karakteristik kualitas menyimpang dari
nilai target (Jeang, 1997). Perhitungan biaya kerugian kualitas dilakukan
dengan menggunakan metode pendekatan fungsi kerugian kuadratik Taguchi.
Kerugian kualitas Taguchi ditetapkan sebagai suatu ekspresi kuadratik yang
terkait dengan kerugian terhadap variasi dari suatu karakteristik produk.
Perhitungan besar biaya kerugian kualitas komponen ke-i untuk fitur ke-j dapat
ditulis:
Persamaan 2 menunjukkan persamaan kerugian kualitas
komponen ke-i, fitur ke-j secara individu, dan nilai ekspektasi
hasil pengukuran karakteristik kualitas komponen ke-i, fitur ke-j adalah (
), maka nilai
ekspektasi loss untuk setiap komponen
ke-i, fitur ke-j dapat dituliskan menjadi:
Jika diasumsikan bahwa nilai ekspektasi hasil pengukuran
karakteristik kualitas komponen ke-i
untuk fitur ke-j atau nilai rata-rata
komponen ke-i untuk fitur ke-j (
) adalah nilai target kualitas yang diinginkan
dari komponen ke-i, fitur ke-j (
) maka
perhitungan ekspektasi biaya kerugian kualitas komponen ke-i untuk fitur ke-j dapat
ditulis:
Persamaan 4 adalah untuk kasus nominal is the best di mana nilai tengah proses = nilai target.
Jika ditetapkan Cp = 1,
akan didapat hubungan antara variansi dengan toleransi
, sehingga
ekspektasi biaya kerugian kualitas dapat ditulis kembali dengan:
Dengan cara yang sama, besar
ekspektasi biaya kerugian kualitas produk akhir
dapat dihitung. L(y) dapat dinyatakan dengan
. Jika QR digunakan untuk menyatakan nilai
ekspektasi keseluruhan biaya kerugian kualitas produk akhir, maka QR dapat ditulis:
di mana
adalah akumulasi nilai variansi tiap-tiap
karakteristik kualitas komponen rancangan proses.
dapat dihitung dengan menggunakan model
statistik. Asumsi yang digunakan pada model ini adalah karakteristik kualitas
hasil pengukuran berdistribusi normal dan masing-masing karakteristik kualitas
dari komponen rancangan bersifat independen satu sama lain dan menggunakan
ekspansi Taylor
untuk pendekatan fungsi karakteristik kualitas non-linear (Zhang, 1997).
Perhitungan
sebagai fungsi dari variansi dari komponen
rancangan dapat dilihat pada persamaan berikut:
...........................................................(7)
dimana variansi dari karakteristik kualitas produk akhir
dipengaruhi oleh variansi dari masing-masing komponen produk. Hal ini
diperlihatkan dengan fungsi turunan parsial terhadap masing-masing komponen
rancangan proses xij yaitu
. Nilai
bernilai konstan yang diperoleh dengan
memasukkan nilai nominal target kualitas masing-masing komponen rancangan
proses.
dapat juga diartikan sebagai sensitivitas
karakteristik kualitas produk akhir terhadap karakteristik kualitas setiap
komponen ke-i untuk fitur ke-j.
Karena setiap komponen ke-i untuk fitur ke-j
memiliki sejumlah Mij
alternatif proses yang salah satunya dapat dipilih dan dengan ditetapkannya Cp = 1 maka persamaan 7 dapat
ditulis kembali menjadi:
...................................................(8)
Kemudian dapat dihitung biaya kerugian kualitas QR dengan menggunakan:
.........................................(9)
Biaya produksi TCR
dihitung dengan menjumlahkan biaya manufaktur (MR) dan biaya kerugian kualitas (QR).
Biaya produksi yang digunakan sebagai kriteria fungsi
tujuan diformulasikan dengan min TCR = MR
+ QR
MinTCR=
+
.......................(10)
1.2
Pembatas
(Constraint)
Batasan Spesifikasi Produk
Nilai toleransi kualitas produk akhir dari skenario
rancangan proses yang dipilih dapat ditulis:
..............................................................(11)
Kualitas produk akhir dapat dikatakan memenuhi
spesifikasi produk jika nilai toleransi kualitas produk akhir (tp) lebih kecil dari nilai
toleransi kualitas desain (toleransi fungsional/td) atau
atau
. Kondisi ini
menjadi fungsi pembatas dalam model ini. Persamaan fungsi pembatas dapat ditulis:
....................................(12)
Batasan
Koefisien Biner
Batasan ini untuk menjamin hanya satu alternatif proses
per komponen:
Batasan
Kapabilitas Proses (Process Capability
Constraint)
Setiap
operasi proses mempunyai akurasinya sendiri dan harus dilaksanakan dalam
kapabilitas prosesnya, dengan demikian:
Dari persamaan kriteria fungsi tujuan dan fungsi
pembatas, diperoleh perumusan model optimisasi perencanaan proses dengan programa
zero-one yang dikembangkan seperti
diperlihatkan dalam persamaan:
Fungsi tujuan:
MinTCR=
+
............(16)
+
............(16)
Pembatas:
(i)
,
,
(ii)
,
(iii) 
2. Tahap-tahap Implementasi Model
Tahap-tahap Implementasi
Model Optimisasi Perencanaan Proses adalah sebagai berikut:
1.
Tentukan/identifikasi
karakteristik kualitas (key
characteristic).
Penentuan karakteristik kualitas ini didasarkan kepada
spesifikasi produk. Berdasarkan informasi mengenai spesifikasi produk ini maka
akan diperoleh karakteristik kualitas dari produk tersebut (product key characteristic).
Tahapan ini dilakukan dengan terlebih dahulu mengumpulkan
informasi-informasi mengenai kebutuhan/keinginan konsumen terhadap produk,
sehingga melalui informasi ini dapat diperinci lagi menjadi spesifikasi produk.
Pada tahap 1 ini akan diperoleh variabel kritis y atau karakteristik kualitas y.
2.
Tentukan komponen
rancangan proses dari variabel kritis y.
Komponen rancangan proses ini merupakan komponen-komponen penyusun (x1, x2, ..., xn)
agar didapatkan fungsi dari y
(karakteristik kualitas) yang terpilih pada tahap 1. Pada tahap ini dimensi
komponen rancangan proses sudah lebih spesifik, y = f(x1, x2, ..., xn). Dimensi
ini diperlukan untuk mendapatkan persamaan fungsi assembly/persamaan fungsional. Tahap ini dilakukan dengan cara
pembacaan gambar assembly.
3.
Rumuskan persamaan
fungsional dari karakteristik kualitas yang telah ditetapkan pada tahap 2.
4.
Tentukan
fitur-fitur yang berhubungan dengan komponen-komponen rancangan proses. Tahap
ini dilakukan dengan cara pembacaan gambar assembly.
Langkah-langkah yang harus dilakukan pada tahap ini adalah:
4.a. Identifikasi komponen fungsional,
yaitu komponen mana dari gambar assembly
yang membentuk rantai toleransi dan tentukan jenis fitur dari toleransi
tersebut.
4.b.Tentukan jenis
toleransi. Pada makalah ini jenis toleransi dibatasi hanya untuk toleransi
dimensi atau toleransi linear.
4.c.Pemilihan
proses. Tentukan alternatif proses apa saja yang dapat memproses fitur tersebut.
Tahap 4 ini
bertujuan untuk mengelompokkan dimensi komponen yang membentuk rantai toleransi
ke dalam jenis fitur dan jenis toleransi. Dengan demikian lebih memudahkan
dalam menentukan alternatif proses pemesinan untuk setiap fitur tersebut. Tools yang digunakan adalah hasil
penelitian yang telah dilakukan oleh Ikhsan (1998) dan Nainggolan (2004) untuk
mendapatkan alternatif proses untuk setiap fitur. Database yang dibutuhkan adalah: data jenis fitur dan data
kapabilitas proses/mesin. Hitung waktu dan biaya pemesinan untuk masing-masing
alternatif mesin tersebut. Perhitungan waktu pemesinan dan biaya pemesinan
diperlukan untuk mendapatkan biaya manufaktur.
Dari masing-masing
alternatif mesin dipilih toleransi proses yang optimal (diambil dari tabel
kapabilitas proses/toleransi kapabilitas dari masing-masing mesin).
5.
Buat rantai
toleransi untuk membentuk persamaan pemesinan untuk fitur (persamaan error propagation untuk fitur).
Persamaan error propagation untuk
fitur ini didapatkan dari alternatif proses yang terpilih untuk memproses fitur
tersebut dengan kriteria: waktu, biaya, dan toleransi. Lakukan perhitungan
waktu pemesinan dengan menggunakan software
Master CAM. Database yang
dibutuhkan adalah data jenis fitur, data kapabilitas proses/mesin, data parameter
pemesinan yang meliputi: kecepatan potong, kecepatan makan, kedalaman potong,
jenis pahat, jenis material, diameter pahat, lebar potongan (untuk mesin Milling), dan jumlah gigi pada pahat
(untuk mesin Milling).
6.
Buat persamaan
fungsional untuk komponen, sehingga nantinya didapatkan persamaan fungsi assembly (variation model).
7.
Buat formulasi
toleransi proses.
Persamaan assembly yang sudah didapatkan kemudian dimasukkan ke dalam model
matematis perancangan proses. Batasan dalam model ini adalah batasan toleransi
desain/spesifikasi produk, batasan kapabilitas proses, dan batasan koefisien
biner.
8.
Selesaikan solusi
permasalahan optimisasi. Hasil
optimisasi berupa perencanaan proses yang selanjutnya merupakan rekomendasi untuk proses manufaktur
komponen-komponen produk.
9.
Lakukan proses
manufaktur komponen-komponen produk dengan rekomendasi perencanaan proses yang
telah didapatkan pada tahap 8. Jika toleransi desain yang ditetapkan sangat
ketat, maka mesin yang dipilih merupakan mesin dengan kemampuan proses yang
paling presisi. Toleransi proses yang ketat ini mengakibatkan biaya manufaktur
menjadi tinggi. Jika toleransi desain yang ditetapkan longgar, maka mesin yang
terpilih untuk memproses setiap fitur komponen tidak semuanya mesin yang paling
presisi. Hanya sebagian dimensi fitur komponen yang diproses dengan mesin
dengan kapabilitas proses yang paling presisi, sedangkan dimensi fitur komponen
yang lain mampu diproses oleh mesin yang kurang presisi. Toleransi proses yang
longgar mengakibatkan penurunan biaya manufaktur, namun fungsionalitas produk
tetap terjamin. Dengan artian bahwa toleransi kualitas produk akhir mampu
memenuhi toleransi desain yang disyaratkan dari produk tersebut.
3. Contoh Numerik
Contoh numerik pada makalah ini menggunakan produk Slideway. Slideway memiliki dua subassembly
yaitu slider subassembly (komponen 1)
dan saddle subassembly (komponen 2).
Bentuk produk dan dimensi komponen-komponennya dapat dilihat pada Gambar 3.


Gambar 3. Produk Slideway
dengan clearance x1 dan x2
Pada Gambar 3 terlihat clearance x1
dan x2. Clearance ini dibutuhkan untuk tempat
pengaliran minyak pelumas apabila kedua subassembly
dirakit bersama. Clearance x1
dan x2 merupakan
karakteristik kualitas dari produk yang digunakan dalam contoh numerik ini. Clearance ini secara langsung menentukan
stabilitas dan assemblability dari
produk. Dimensi nominal dari fitur rectangular
slot pada slider subassembly
adalah 1,000 in (25,4 mm), dan dimensi nominal dari fitur slab pada saddle subassembly
adalah 0,999 in (25,3746 mm). Sehingga total
nominal clearance antara kedua subassembly
ini adalah 0,001 in (0,0254 mm). Dari sudut pandang fungsi produk, clearance antara 0,0005 in (0,0127 mm)
dan 0,0015 in (0,0381 mm) akan memenuhi persyaratan fungsi dengan sangat baik.
Karakteristik kualitas (y) produk Slideway adalah
clearance antara slot dan slab pada
Gambar 3 adalah y = x1 + x2. Spesifikasi kualitas dapat
ditentukan oleh spesifikasi produk (fungsi produk). Dalam perhitungan
spesifikasi produk, diperoleh nilai-nilai target kualitas produk akhir (
) dan masing-masing komponen rancangan proses yang
dinotasikan dengan
,
,
,
, dan
. Karaktristik kualitas produk akhir dituliskan dalam bentuk
, di mana
dan td secara berurutan adalah
nilai target dan toleransi kualitas produk akhir (clearance antara slot dan
slab).
Pada tahapan kedua implementasi model ditentukan komponen
rancangan proses yang mempengaruhi variabel kritis dari karakteristik kualitas y. Dimensi kritis yang mempengaruhi clearance x1 dan x2 adalah
d3, d7, d15, d16, dan d26. Jika ditetapkan d3 adalah x11 yang berarti dimensi pada komponen 1 dan fitur 1, d7 adalah x12 yang berarti dimensi pada komponen 1 dan fitur 2, d15 adalah x21 yang berarti dimensi pada komponen 2 dan fitur 1, d16 adalah x22 yang berarti dimensi pada komponen 2 dan fitur 2.
Karakteristik kualitas dari komponen rancangan proses d3, d7, d15, dan d16 masing-masing
secara berurutan dapat dituliskan
,
,
, dan
di mana ijk menunjukkan indeks dari alternatif
proses ke-k untuk memproses komponen
ke-i, fitur ke-j, (i = 1,2), dan (j = 1,2). Setiap alternatif proses ke-k untuk memproses komponen ke-i ,fitur ke-j memiliki karakteristik nilai biaya pemesinan (cijk), waktu pemesinan (wijk), dan toleransi kualitas
(tijk) yang tidak sama.
Toleransi kualitas (tijk)
ditentukan dari kapabilitas yang dimiliki oleh mesin, di sini diambil nilai
yang minimum atau dengan kata lain nilai kapabilitas yang paling presisi.
Jika digunakan persamaan 1, maka karakteristik kualitas Slideway (clearance antara slot dan
slab/y) merupakan fungsi dari
karakteristik komponen rancangan proses d3,
d7, d15, d16, dan d26 yang dapat
diperlihatkan:
y=f(d3,d7,d15,d16,d26)
..............................................................................(17)
Diketahui spesifikasi kualitas clearance x1 dan
x2 atau karakteristik
kualitas produk akhir adalah 0,001 ± 0,0005 in (0,0254 ± 0,0127 mm) atau 0,001
± 0,0015 in (0,0254 ± 0,0381 mm). Berdasarkan gambar assembly dari produk Slideway
diperoleh nilai target kualitas (nominal) dari komponen rancangan proses d3, d7, d15, dan d16 masing-masing secara berurutan adalah
= 5,41 in (137,414
mm),
= 6,41 in (162,814
mm),
= 5,39 in (136,906
mm), dan
= 6,39 in (162,306
mm).
Pada tahapan ketiga implementasi model dirumuskan
persamaan fungsional dari karakteristik kualitas yang telah ditetapkan pada
tahap sebelumnya. Karakteristik kualitas yang ditetapkan tersebut adalah clearance antara slot pada komponen slider
dan slab pada komponen saddle.
Berdasarkan persamaan 17 dapat diketahui karakteristik
kualitas Slideway adalah fungsi dari
komponen rancangan proses d3, d7, d15,
d16, dan d26 yang dapat
diperlihatkan pada persamaan:
y=f(d3,d7,d15,d16,d26)=x1+x2 ..............................................................(18)
Dengan membaca gambar assembly
dapat diperoleh persamaan x1 =
- d3 + d15 + d26 dan x2 =
- d16 + d7 - d26. Berdasarkan
persamaan x1 dan x2 dapat dirumuskan persamaan
fungsional dari karakteristik kualitas yang ditetapkan, y = f(R), di mana R
adalah komponen rancangan proses d3, d7,
d15, d16, dan d26 adalah seperti
yang diperlihatkan dalam persamaan:
y
= - d3 + d15 + d26 - d16 +
d7 - d26
y
= - d3 + d15 - d16 + d7 .........................................................................(19)
dimana:y = clearance
antara kedua subassembly; d3 = x11:
komponen 1, fitur 1; d7 = x12:
komponen 1, fitur 2; d15 = x21:
komponen 2, fitur 1; d16 = x22:
komponen 2, fitur 2.
Hasil penurunan parsial dan nilai nominal dari
masing-masing komponen rancangan proses dapat disimpulkan seperti yang
diperlihatkan pada Tabel 1.
|
Relevant constraint untuk x1
|
||
|
Dimensi
|
Nominal (in/mm)
|
Sensitivitas
|
|
d3
|
5,41(137,414 mm)
|
-1,0
|
|
d15
|
5,39 (136,906 mm)
|
1,0
|
|
d26
|
0,015 (0,381 mm)
|
1,0
|
|
Relevant constraint untuk x2
|
||
|
Dimensi
|
Nominal (in/mm)
|
Sensitivitas
|
|
d16
|
6,39 (162,306 mm)
|
-1,0
|
|
d7
|
6,41 (162,814 mm)
|
1,0
|
|
d26
|
0,015 (0,381 mm)
|
-1,0
|
Pada tahapan
keempat implementasi model ditentukan fitur yang berhubungan dengan komponen
rancangan proses. Tahap ini dilakukan dengan cara pembacaan gambar assembly. Data yang dibutuhkan pada
tahapan ini adalah:
§
Data
jenis fitur dan berbagai alternatif proses yang dapat memproses setiap jenis
fitur tersebut didasarkan kepada hasil
penelitian yang telah dilakukan oleh Ikhsan (1998) dan Naingolan (2004).
§
Data
kapabilitas proses (mesin) dan parameter-parameter pemesinan diperoleh dari Machining Data Handbooks. Data-data ini
dibutuhkan untuk menghitung waktu pemesinan untuk masing-masing alternatif
mesin yang dapat memproses fitur pada suatu komponen. Simulasi proses pemesinan
dilakukan dengan software Master CAM
agar diperoleh waktu pemesinan untuk masing-masing dimensi komponen.
Data yang dikumpulkan terbagi menjadi empat kelompok data
komponen rancangan proses yaitu:
1.
Dimensi d3
(x11: komponen 1, fitur 1)
Pada gambar assembly
terlihat bahwa jenis toleransi dari dimensi d3
adalah toleransi dimensi. Menurut hasil penelitian yang telah dilakukan oleh
Ikhsan (1998) dan Nainggolan (2004), jenis fitur yang berhubungan dengan
dimensi d3 adalah fitur step.
Alternatif proses yang dapat memproses fitur step pada d3 adalah mesin milling
konvensional (face milling), mesin milling NC, dan mesin sekrap (shaping machine). Data mengenai biaya
pemesinan, waktu pemesinan, dan toleransi dari masing-masing alternatif proses
pemesinan dapat dilihat dalam Tabel 2.
|
Nilai Nominal karakteristik
|
|||
|
Alt.proses [k]
|
Biaya mesin [cijk]
(Rp/jam)
|
Toleransi [tijk]
(mm)
|
Waktu pemesinan [wijk]
(jam)
|
|
Milling manual (x111)
|
11000
|
0,025<tol<0,05
|
0,94
|
|
Milling NC (x112)
|
62550
|
0,001
|
0,75
|
|
Shaping (x113)
|
8000
|
0,025<tol<0,05
|
1,17
|
2.
Dimensi
d7 (x12:
komponen 1, fitur 2)
Pada gambar assembly
terlihat bahwa jenis toleransi dari dimensi d7
adalah toleransi dimensi. Menurut hasil penelitian yang telah dilakukan oleh
Ikhsan (1998) dan Nainggolan (2004), jenis fitur yang berhubungan dengan
dimensi d7 adalah fitur slot. Alternatif proses yang dapat memproses fitur slot pada d7 adalah mesin milling
konvensional (face milling), mesin milling NC, dan mesin sekrap (shaping machine). Data mengenai biaya
pemesinan, waktu pemesinan, dan toleransi dari masing-masing alternatif proses
pemesinan dapat dilihat dalam Tabel 3.
|
Nilai Nominal karakteristik
|
|||
|
Alt.proses [k]
|
Biaya mesin [cijk]
(Rp/jam)
|
Toleransi [tijk]
(mm)
|
Waktu pemesinan [wijk]
(jam)
|
|
Milling manual (x121)
|
11000
|
0,025<tol<0,05
|
1,25
|
|
Milling NC (x122)
|
62550
|
0,001
|
1
|
|
Shaping (x123)
|
8000
|
0,025<tol<0,05
|
1,56
|
3.
Dimensi
d15 (x21:
komponen 2, fitur 1)
Pada gambar assembly
terlihat bahwa jenis toleransi dari dimensi d15
adalah toleransi dimensi. Menurut hasil penelitian yang telah dilakukan oleh
Ikhsan (1998) dan Nainggolan (2004), jenis fitur yang berhubungan dengan
dimensi d15 adalah fitur slot.
Alternatif proses yang dapat memproses fitur slot pada d15 adalah mesin milling
konvensional (face milling), mesin milling NC, dan mesin sekrap (shaping machine). Data mengenai biaya
pemesinan, waktu pemesinan, dan toleransi dari masing-masing alternatif proses
pemesinan dapat dilihat dalam Tabel 4.
Tabel 4. Data dimensi d15
|
Nilai Nominal karakteristik
|
|||
|
Alt.proses [k]
|
Biaya mesin [cijk]
(Rp/jam)
|
Toleransi [tijk]
(mm)
|
Waktu pemesinan [wijk]
(jam)
|
|
Milling manual (x211)
|
11000
|
0,025<tol<0,05
|
1,19
|
|
Milling NC (x212)
|
62550
|
0,001
|
0,95
|
|
Shaping (x213)
|
8000
|
0,025<tol<0,05
|
1,48
|
4.
Dimensi
d16 (x22:
komponen 2, fitur 2)
Pada gambar assembly
terlihat bahwa jenis toleransi dari dimensi d16
adalah toleransi dimensi. Menurut hasil penelitian yang telah dilakukan oleh
Ikhsan (1998) dan Nainggolan (2004), jenis fitur yang berhubungan dengan
dimensi d16 adalah fitur slab.
Alternatif proses yang dapat memproses fitur slab pada d16 adalah
mesin milling konvensional (face milling), mesin milling NC, dan mesin sekrap (shaping machine). Data mengenai biaya
pemesinan, waktu pemesinan, dan toleransi dari masing-masing alternatif proses
pemesinan dapat dilihat dalam Tabel 5.
|
Nilai Nominal karakteristik
|
|||
|
Alt.proses [k]
|
Biaya mesin [cijk]
(Rp/jam)
|
Toleransi [tijk]
(mm)
|
Waktu pemesinan [wijk]
(jam)
|
|
Milling manual (x221)
|
11000
|
0,025<tol<0,05
|
1,17
|
|
Milling NC (x222)
|
62550
|
0,001
|
0,93
|
|
Shaping (x223)
|
8000
|
0,025<tol<0,05
|
1,46
|
Perhitungan waktu pemesinan untuk mesin milling dilakukan dengan menggunakan software Master CAM. Parameter-parameter pemesinan seperti diameter pahat,
jenis material pahat, jenis material benda kerja, kedalaman potong, kecepatan
potong, kecepatan makan, dan lain-lain dapat dilihat pada machining data handbooks. Sedangkan
perhitungan waktu pemesinan untuk mesin milling
manual dan mesin sekrap dilakukan dengan menggunakan perhitungan data waktu
baku dengan memberikan faktor penyesuaian dan kelonggaran untuk fitur pada
masing-masing dimensi komponen. Namun pada penelitian ini diasumsikan bahwa
untuk waktu mesin milling manual
diberikan kelonggaran sebesar 25 % lebih lama dari waktu mesin NC. Sementara
waktu mesin sekrap diasumsikan kelonggarannya 25 % lebih lama dari waktu mesin milling manual. Asumsi ini didasarkan
pada pengalaman operator pada industri kecil logam.
Besar Mij bergantung kepada
jumlah alternatif proses dari setiap komponen rancangan proses. Dari data pada
Tabel 2, Tabel 3, Tabel 4, dan Tabel 5 dapat diperoleh M11 = 3, M12
= 3, M21 = 3, dan M22 = 3. Berdasarkan
spesifikasi kualitas produk (clearance
antara kedua subassembly) dapat
diketahui td adalah 0,001
± 0,0005 in (0,0254 ± 0,0127 mm).
Dengan menggunakan persamaan 16 diperoleh perumusan matematis dari model
optimisasi perencanaan proses produk Slideway.
Kemudian dengan bantuan software LINGO maka
dapat diperoleh solusi optimal. Perumusan model optimisasi seperti pada
persamaan 16, selanjutnya dituliskan dalam bentuk persamaan program LINGO.
Nilai koefisien biaya kerugian kualitas (Ap)
dapat dihitung dengan menggunakan persamaan 20. Jika diasumsikan perusahaan
memberi jaminan mengganti produk reject
dengan memberi beban biaya kepada konsumen Rp.100.000,- untuk spesifikasi
kualitas produk 0,001 ± 0,0005 in (0,0254 ± 0,0127 mm), maka nilai Cr adalah Rp.100.000,-. Nilai Ap dapat dihitung sebagai
berikut:
Ap =
= 620001240.
Solusi permasalahan optimisasi dengan menggunakan software LINGO 8.0 dapat diperlihatkan
dalam Tabel 6.
|
Tol.desain
|
D3
|
d7
|
d15
|
d16
|
Total biaya(Rp)
|
|
td = 0,0127mm
|
Mesin NC
|
Mesin NC
|
Mesin NC
|
Mesin NC
|
227332
|
SIMPULAN DAN SARAN
Simpulan
Makalah ini mengembangkan model penetapan toleransi
dengan meminimasi biaya manufaktur dan biaya kerugian kualitas untuk produk assembly (biasanya untuk mechanical assembly) dan juga memperhatikan
alternatif perencanaan proses. Artinya toleransi proses yang dihasilkan oleh
alternatif proses yang terpilih untuk memproses komponen-komponen assembly meminimumkan total biaya dan
mampu memenuhi fungsionalitas dari produk assembly
tersebut.
Saran
Pada makalah ini dapat disarankan beberapa hal berikut
ini untuk penelitian lebih lanjut:
1.
Hubungan antara variabel karakteristik
komponen rancangan proses bersifat nonlinear dan dependen satu sama lain, untuk
itu perlu digunakan pendekatan non linear untuk merumuskan fungsi karakteristik
kualitas produk akhir dari karakteristik kualitas masing-masing komponen
rancangan proses.
2.
Toleransi yang dievaluasi tidak hanya
toleransi dimensi melainkan mengikutsertakan toleransi geometrik.
3.
Nilai rata-rata karakteristik kualitas
dari hasil masing-masing alternatif proses tidak sama dengan nilai target dari
karakteristik kualitas komponen rancangan atau dengan kata lain perlu
dikembangkan model optimisasi perencanaan proses untuk toleransi asimetris.
4.
Perhitungan biaya manufaktur tidak hanya
mengalikan biaya pemesinan dan waktu pemesinan, namun biaya-biaya lainnya yang
berkaitan dengan proses manufaktur juga ikut dimasukkan dalam perhitungan,
contoh: biaya set up, biaya operator,
dan lain-lain. Sedangkan untuk waktu pemesinan dilakukan perhitungan dengan
menggunakan data empirik yang terdapat pada lantai produksi.
DAFTAR PUSTAKA
C. Zhang dan Wang.,
(1998), Robust design of assembly and
machining tolerance allocations, IIE
Transactions, Vol. 30.p. 17-29.
G.Taguchi., (1989),
Quality Engineering in Production
Systems, McGraw-Hill, New York.
Hong, Y. S. and
Chang, T.-C., (2002), A Comprehensive
Review of Tolerancing Research, International
Journal of Production Research, Vol. 40(11), p.2425-2459.
Ikhsan, Aidil., (1998),
Model Optimasi Toleransi Manufaktur Yang
Memperhatikan Penumpukan Toleransi untuk Benda Prismatik Dengan Bantuan
Komputer, Tesis Magister, Program Studi Teknik dan Manajemen Industri,
Institut Teknologi Bandung.
Jeang, A., (1997), An Approach of Tolerance Design for Quality
Improvement and Cost Reduction, International
Journal of Production Research, Vol. 35(5), p.1193-1211.
Nainggolan,
Marihot, (2004), Pembangkitan Alternatif
Urutan Proses Berbasis Fitur Menggunakan Algoritma Pencarian Ruang Solusi,
Tesis Magister, Departemen Teknik Industri, Institut Teknologi Bandung.
Ye, B., and
Salustri, F.A. (2000), Simultaneous
Tolerance Synthesis for Manufacturing and Quality. http://www.google.com/ [date of access: 10 Maret
2005].
Zhang, Chao &
Hong, (1997), Advanced Toerancing
Techniques, John Wiley & Sons, Inc. New York.
No comments:
Post a Comment